06 Mei 2009

Matematika, Antara Nyata dan Abstrak

“Pembelajaran matematika harus selalu dikaitkan dengan kehidupan nyata”.

Kalimat ini sudah sering didengungkan oleh para pakar pendidikan, terutama pendidikan matematika. Begitu juga dengan para orang tua yang berpendapat bahwa cara terbaik untuk menjelaskan konsep-konsep matematika adalah dengan menggunakan kasus-kasus dalam kehidupan nyata. Namun, para peneliti dari Ohio State University menemukan sesuatu yang mengejutkan. Mahasiswa yang diberi penjelasan konsep matematika dengan menggunakan kasus-kasus realistik justru tidak bisa menggunakan pengetahuannya untuk situasi-situasi yang baru.

Simbol

Penelitian ini dipimpin oleh Jennifer Kaminski dan dipublikasikan di jurnal Science. Ia menemukan bahwa mahasiswa yang diberi pelajaran matematika dengan menggunakan simbol-simbol abstrak justru lebih bisa menerapkan pengetahuannya.

“Penemuan ini menimbulkan keraguan terhadap cara mendidik yang sudah kita percayai selama ini”, demikian kata asisten peneliti Vladimir Sloutsky. “Kita sudah sangat mempercayai metode pembelajaran dengan menggunakan kasus-kasus nyata, dan hal ini sekarang dipertanyakan”.

Para peneliti memeriksa daya tangkap mahasiswa dalam mempelajari konsep-konsep dasar matematika semisal hukum komutatif dan asosiatif, yaitu sebagai contoh belajar bahwa 2+3 sama dengan 3+2. Beberapa mahasiswa diajari dan diminta mengerjakan soal dengan menggunakan notasi simbolis. Mahasiswa yang lain diajar dengan menggunakan kasus-kasus nyata, semisal menggunakan kasus mengukur banyaknya air dalam tempat penampung air dan menghitung berapa banyaknya bola yang ada pada sebuah keranjang bola.

Setelah diajari dengan menggunakan beberapa teknik pengajaran, mereka mengikuti tes pilihan ganda. Pada tahap ini sebagian besar mahasiswa dapat menerapkan pengetahuan yang telah mereka dapatkan, namun pada saat disuguhkan soal-soal baru yang menuntut penerapan prinsip, mereka yang belajar dengan menggunakan simbol-simbol abstrak dapat mengerjakan jauh lebih baik. Soal-soal baru yang digunakan pada eksperimen ini merupakan soal permainan yang belum pernah ada sebelumnya, di mana dibutuhkan konsep-konsep matematika yang baru saja dipelajari untuk memecahkannya. Mahasiswa kemudian diberikan sebuah tes kecil. Mereka yang belajar dengan menggunakan simbol-simbol abstrak dapat menjawab delapan puluh persen pertanyaan dengan benar, sedangkan mereka yang belajar dengan contoh-contoh kehidupan nyata memperoleh hasil yang tidak sebaik itu.

Contoh Nyata

Di percobaan lain, mahasiswa yang diajari dengan menggunakan contoh-contoh kehidupan nyata diminta untuk membandingkan dan mencari apa yang serupa dari contoh-contoh tersebut. Mereka selanjutnya diberi tes kecil lagi, dan memang mereka mengalami peningkatan, namun tidak sebanding dengan mahasiswa yang diajari dengan simbol-simbol abstrak. Para peneliti berpendapat bahwa hanya ada beberapa orang yang mendapatkan keuntungan lebih dari pembelajaran matematika dengan menggunakan kasus-kasus nyata.

Untuk eksperimen terakhir, para mahasiswa yang telah diajari dengan menggunakan kasus-kasus nyata kembali diberi pelajaran dengan menggunakan simbol-simbol abstrak. Pada tahap ini mereka yang belajar hanya dengan menggunakan simbol-simbol abstrak tetap dapat mengaplikasikan pengetahuannya dengan lebih baik. Para peneliti menduga bahwa contoh-contoh kehidupan nyata mengandung terlalu banyak informasi yang akhirnya mengaburkan konsep matematika yang ada di dalamnya.

“Kita benar-benar perlu membedah dan membawa konsep-konsep tersebut ke dalam notasi-notasi simbolis yang abstrak seperti variabel dan bilangan. Para mahasiswa akan lebih siap untuk menerapkan konsep-konsep tersebut ke berbagai macam situasi”, kata Kaminski.

Peneliti-peneliti ini berharap, temuan mereka akan menimbulkan perdebatan mengenai cara pembelajaran matematika yang paling efisien.


sumber : netsains.com

1 komentar:

  1. Hohoho.. mantaff.. Hayo tebak..!! 1+1=....?? brapa hayo...?? hehehe.. gunakan logika contoh nyata... ^_^

    BalasHapus