03 Februari 2012

KRITIK CERPEN

WANITA KARIR

Dewi Lestari Simangunsong, yang dikenal dengan nama pena Dee, lahir di Bandung, 20 Januari 1976. Lulusan jurusan Hubungan Internasional Universitas Parahyangan ini awalnya dikenal sebagai anggota trio vokal Rida Sita Dewi. Sebelum Supernova keluar, tak banyak orang tahu kalau Dee telah sering menulis. Tulisan Dee pernah dimuat di beberapa media. Salah satu cerpennya yang berjudul Sikat Gigi pernah dimuat di buletin seni terbitan Bandung, Jendela Newsletter, sebuah media berbasis budaya yang independen dan berskala kecil untuk kalangan sendiri. Tahun 1993 ia mengirim tulisan berjudul Ekspresi ke majalah Gadis. Bahkan ketika masih menjadi siswa SMA ia pernah menulis sendiri untuk bulletin sekolahnya.

Sepanjang kiprahnya sebagai penulis, Dee telah memperoleh berbagai penghargaan sastra, dan semua bukunya selalu menjadi bestseller. Beberapa bahkan telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Hingga saat ini Dee telah menerbitkan tujuh buku, yaitu Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, Supernova: Akar, Supernova: Petir, Filosofi Kopi, Perahu Kertas, Rectoverso, dan yang terbaru adalah Madre. Pada pemunculannya pertama kali di tahun 2001, Supernova membawa angin segar yang menggeliatkan industri buku Indonesia, khususnya sastra. Saat ini ia tengah merampungkan buku kedelapannya yaitu Supernova: Partikel yang dijadwalkan terbit pada April 2012.

Cerpen berjudul Tidur yang akan saya bahas kali ini terdapat dalam buku Rectoverso. Salah satu hal yang unik adalah Rectoverso merupakan hibrida dari fiksi dan musik yang terdiri atas sebelas cerita pendek dan sebelas lagu. Keduanya saling melengkapi bagaikan dua imaji yang seolah berdiri sendiri namun sesungguhnya merupakan satu kesatuan yang dapat dinikmati bersama-sama. Rectoverso menjadi sebuah terobosan yang unik dan pertama kali ada dalam dunia sastra Indonesia. Memang sangat sesuai dengan karakter Dewi Lestari yang selalu muncul dengan karya yang unik dan berbeda. Karya-karyanya bukan sekadar roman percintaan remaja seperti yang sedang marak saat ini, tapi lebih dari itu. Setiap karyanya memiliki kekuatan tersendiri dan nilai yang dapat diresapi oleh pembacanya.

Cerpen ‘Tidur’ mengisahkan seorang wanita karir yang bekerja di luar negeri dan harus meninggalkan suami dan dua orang anaknya di Indonesia. Setelah dua tahun, ia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya itu dan kembali pada keluarganya. Pada hari ia harus kembali, ia merasakan kegelisahan, kecanggungan, dan hal-hal lain yang bercampur aduk dalam hatinya. Ia tidak bergembira, justru ia sangat gugup. Di pesawat menuju Indonesia, saat para penumpang lain terlelap ia justru terjaga. Bahkan ketika telah sampai di Jakarta ia tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan pergi ke pantai. Kegugupan melumpuhkannya. Selanjutnya terungkap bahwa selama bekerja ia mengalami depresi karena rasa bersalah meninggalkan keluarganya. Bahkan ia bergabung dalam ‘Working Mother Anonymous’, sebuah perkumpulan di mana para ibu yang memiliki problem sama dengannya berkumpul untuk berbagi. Di balik itu semua, ia masih menyalahkan dirinya sendiri. Kini ia harus belajar untuk memaafkan dirinya.

Cerpen ini ditulis dengan sudut pandang orang pertama pelaku utama. Tanpa banyak dialog dengan tokoh lain, Dee menggambarkan dengan jelas kegelisahan yang dirasakan sang wanita karir yang menjadi tokoh utama dalam cerpen ini. Pemaparan tersebut memudahkan kita sebagai pembaca untuk memahami perasaan tokoh sehingga kita seolah menjadi tokoh itu sendiri.

Gaya bahasa yang digunakan Dee indah, namun seringkali mengejutkan. Misalnya pada kutipan berikut:

‘Dua tahun kutunggu hari ini. Seperti tahanan yang mengangankan langit luas, dan ketika gerbang penjara terbuka, ia malah ingin lari kembali ke kungkungan tembok yang membatasi langitnya. Cakrawala tak terbatas, tanpa pembiasan, bisa lebih mengerikan ketimbang sepetak langit yang dijatahkan setiap hari lewat rutinitas. Kemerdekaan ini membuat sistemku kejut dan kejang.’

Dalam paragraf tersebut Dee menggambarkan kegundahan tokoh. Wanita tersebut telah menanti kepulangannya selama dua tahun. Ia menggambarkan dirinya seperti tahanan yang mengangankan langit luas. Namun ketika harinya tiba ia malah gelisah, resah akan keputusannya. Ia merasa kebebasannya justru lebih mengerikan ketimbang kehidupan teraturnya penuh rutinitas namun tanpa keluarga. Ia merasa belum siap dengan kepulangannya. Namun di sisi lain ia menyesal harus hidup dengan menjadi bayang-bayang bagi keluarganya.

Perumpaan yang Dee gunakan dalam cerpennya tajam dan tepat sasaran, seringkali hiperbolik namun tetap menjadikan cerpennya menarik. Seperti dalam kutipan berikut:

‘Lewat dari lima jam, udara di pesawat berubah menjadi pisau-pisau halus yang mencacah hidung setiap kali bernapas. Kunikmati setiap sayatan pisau yang kutarik sampai ke paru-paru. Barangkali inilah hukuman yang amat sangat layak kutanggung setelah pergi dari rumah sekian lama.’

Dee menggambarkan betapa tersiksanya sang tokoh di perjalanan pulangnya. Udara di pesawat yang dingin dan menyesakkan ia deskripsikan secara dramatis dengan mengumpamakannya sebagai sayatan pisau halus yang mencacah hidung. Pada saat itu sang tokoh kembali merasa sangat bersalah karena telah meninggalkan keluarganya.

Selain hiperbolik dan dramatis, seringkali Dee menggunakan bahasa yang sarkastik seperti dalam kutipan berikut:

‘Aku bekerja membanting tulang di benua lain tapi sesungguhnya aku tidur. Dan karena itulah aku masih meladeni semua pertanyaanmu, wahai sopir taksi. Aku hanya tak mau lagi melewatkan hiduku dalam mimpi, sekalipun engkau cukup layak untuk menjadi mimpi burukku.’

Bahasa yang ia gunakan sesungguhnya halus namun bernada sarkastik. Si tokoh menyimpan dalam hati kekesalannya terhadap supir taksi yang terlalu banyak bertanya, sedangkan ia sedang sangat gundah dan tidak ingin menanggapinya. Lebih jauh lagi, si supir taksi menunjukkan foto ia bersama anak dan istrinya, semakin menyesakkan perasaan si wanita karir.

Nama tokoh tidak disebutkan oleh Dee. Namun karena sepanjang cerita sudut pandang yang digunakan adalah orang pertama pelaku utama dan tidak banyak tokoh lain yang terlibat, pembaca tetap dapat memahami cerpen ini. Selain itu, latar waktu dan tempat dalam cerpen ini pun tidak disebutkan dengan jelas. Namun latar suasana tergambar dengan jelas karena gaya bahasa yang Dee gunakan memaparkannya dengan jelas.

Topik yang diangkat Dee dalam cerpen ini , yaitu tentang wanita karir, sesungguhnya cukup dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Setiap wanita memang dihadapkan dengan dua pilihan, menjadi wanita karir atau menjadi ibu rumah tangga. Sudah menjadi kodrat bagi setiap wanita untuk menjadi seorang ibu dan istri yang mampu mambangun keluarga. Namun di masa kini, ketika kesetaraan gender diperjuangkan, wanita tidak mau kalah untuk mendapatkan kesempatan bekerja dan berprestasi seperti pria. Karena itulah banyak wanita yang memilih untuk menjadi seorang wanita karir.

Definisi dari wanita karir adalah wanita yang memiliki karir atau yang menganggap kehidupan kerjanya serius (mengalahkan sisi-sisi kehidupan yang lain). Menjadi wanita karir konvensional, dalam arti wanita yang bekerja dan meniti karir sampai puncak adalah mudah. Asal memiliki kemampuan dan kecakapan dalam bekerja hal tersebut dapat tercapai. Namun menjadi wanita karir sekaligus istri dan ibu yang baik bagi keluargalah yang sulit.

Wanita karir selalu dihadapkan dengan dilema. Di satu sisi, ia memiliki karir yang harus ia perjuangkan agar sukses. Di sisi lain, ia juga merupakan seorang ibu dan istri yang memiliki keluarga. Mengikuti dan menyaksikan pertumbuhan anak tentu menjadi impian bagi setiap wanita. Namun hal ini sulit bagi seorang wanita karir, terlebih yang bekerja di luar negeri seperti tokoh dalam cerpen ini. Ia dan para wanita karir lainnya berkumpul dalam pertemuan berjudul Working Mother Anonymous demi menyalurkan kekecutan hatinya melihat anak-anaknya tumbuh besar dengan sederet perkembangan yang ia dengar melalui cerita suami, orang tua, atau pengasuh. Mereka tak pernah hadir langsung untuk menyaksikannya.

Dalam pertemuan tersebut si tokoh selalu menyatakan diri sebagai ibu yang paling buruk di dunia. Semua yang berkumpul dalam pertemuan itu merasakan hal yang sama. Sungguh menyakitkan menjadi seorang ibu yang mengenal anaknya melalu cerita orang lain. Si tokoh yang merasa tertekan bahkan harus menemui psikiater beberapa kali. Ya, wanita karir memang tidak luput dari stres, terlebih yang bekerja di luar negeri. Seperti yang dialami tokoh, pada awalnya ia merasa imbalan yang ia dapat setimpal dengan waktu dan tenaga yang ia berikan. Namun, ia menyadari bahwa hal itu tidak setimpal dengan keluarga yang harus ia tinggalkan. Karena itulah ia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaanya dan memilih kembali dengan keluarganya.

Tidak ada yang lebih indah bagi seorang wanita selain menjadi istri dan ibu yang baik yang mampu membangun keluarga sakinah. Peran seorang ibu sangat penting bagi anak, terutama menyangkut pendidikan karakter anak. Keluarga broken home umumnya timbul dari minimnya peran orang tua terutama ibu dalam mendidik dan membimbing anak karena kesibukannya bekerja.

Pemilihan judul Tidur bagi cerpen ini cukup tepat. Sang tokoh sudah cukup lama tertidur dan memimpikan kehidupan bersama keluarganya. Cerpen ini diakhiri dengan sampainya si wanita di rumahnya. Ia sampai pada malam hari ketika suami dan kedua anaknya terlelap. Dalam hati ia meminta maaf. Ia merasakan kebahagian dengan cara yang sangat sederhana, yaitu menatapi ketiganya tidur nyenyak. Ia akan memulai kembali semuanya dengan benar dari awal.

Selain dituliskan dalam bentuk cerpen, Tidur juga dituangkan dalam bentuk lagu dengan judul yang sama. Berikut lirik lagu tersebut:


Tak perlu kau bangun dari tidurmu

Tak usah bersuara menyambutku

Ku cukup bahagia berada di sini

Di sisimu, memandangmu,

Tanpa harus kau tahu

Sekian lama sudah kita tak berjumoa

Tiada terbilang lagi rindu ini

Dalam haru, ku membisu

Oh…

Malam ini kucukupkan hanya menatapimu

Mala mini kuputuskan untuk jaga tidurmu

Jika nanti semua ini berlalu

Jika ku tak lagi jauh darimu

Aku kan temani engkau selalu

Pagi, siang, sore, malam

Kapan pun engkau mau

Sekian lama sudah ku tak bisa pulang

Nyaris tiada terbayang kau kini ku pandang

Dalam hati, ku berbisik

Oh… tidur, tenang

Oh… tidur, sayang, tidur

Aku kan ada saat matamu membuka

Mendekap engkau seoalah tiada esok, lusa

Tiada pergi jauh lagi dari engkau

Tiada malam, tiada pagi,

Tanpa hangat jemarimu

Oh… tidur, tenang

Oh… tidur, sayang, tidur


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar