13 November 2011

Madre, A Must Read Book

Madre – Dewi Lestari

Alright, aku mau coba bikin semacam resensi dari buku yang baru aku baca, Madre. Buku ini hadiah ultahku dari aunty aku tersayaaaang :D

Identitas buku

Judul buku : Madre

Penulis : Dewi Lestari

Penerbit : Bentang Pustaka

Cetakan ke- : dua, Agustus 2011

Tebal buku : xiv + 162 hlm, 20 cm



Siapa sih yang ga kenal sama Dewi Lestari? Hayo siapa? Penulis yang satu ini udah terkenal banget deh. Selain sebagai penulis Dee juga dikenal sebagai penyanyi.

Karya pertama Dee yang aku baca adalah Supernova : Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. Untuk ukuran aku yang masih SMA, bisa dibilang novel itu cukup berat. Bahasanya tinggi siih, mungkin aku aja yang ga nyampe ya pemahamannya. Tapi setelah beberapa kali aku baca akhirnya paham juga sih maksudnya. Dan setelah baca itu aku langsung jatuh cinta sama tulisan Dee. Tulisannya puitis, romantis, tapi realistis, dan seringkali nyeleneh.

Sekarang aku bahas soal Madre dulu deh, karya terbaru Dee, buku ketujuh sekaligus kumpulan fiksi ketiganya setelah Filosofi Kopi dan Rectoverso. Aku udah punya Rectoverso, tapi belum punya Filosofi Kopi. Berharap banget bisa baca Filosofi Kopi huhu T.T

Oke, balik lagi soal Madre. Kumpulan fiksi ini berisi beberapa cerpen, cerpen yang agak panjang, dan puisi.


1. Madre

Diawali dengan cerpen yang agak panjang berjudul sama, Madre. Kata Madre berasal dari bahasa Spanyol yang artinya ibu. Dalam kisah ini, Madre adalah adonan biang roti. Tokoh utama dalam cerpen ini adalah Tansen.


“Apa rasanya sejarah hidup kita berubah dalam sehari? Darah saya mendadak seperempat Tionghoa, nenek saya ternyata tukang roti, dan dia, bersama kakek yang tidak saya kenal, mewariskan anggota keluarga yang tidak pernah saya tahu: Madre.”

Tansen – Madre


Ya, sejarah hidup Tansen ternyata kompleks. Hidupnya seolahberubah dalam sehari. Ia yang dapat dikatakan seorang freelancer tiba-tiba harus mewarisi toko roti dan menjadi tukang roti.

Dari toko roti tua itu banyak pelajaran yang dapat kita ambil. Dee menunjukkan kehidupan tradisional para tukang roti. Bagaimana Madre dianggap sebagai bagian dari keluarga, bagaimana toko roti itu bukan sekedar toko, tapi hidup orang-orang yang bekerja di baliknya. Bagaimana orang-orang tersebut hidup dalam keakraban dan kedamaian. Hal itu yang mungkin ingin diajarkan Dee pada kita semua.

Yah, di toko roti inilah Tansen menemukan arti hidup yang sesungguhnya. Ia bahkan menemukan gadisnya, Mei, karena roti. Cerita ini dibawakan Dee dengan menarik sehingga pembaca seolah menjadi tokoh utama, ya, seperti karya-karya Dee yang lain.


“Mungkin karena memang nggak ada yang kebetulan, Pak. Mungkin sudah harusnya saya di sini.”

Tansen – Madre


Ya, aku jadi belajar kalo tidak ada kebetulan, segala hal sudah ada garisannya, jauh sebelum kita ada. Semua hal terjadi karena memang sudah seharusnya terjadi.


2. Rimba Amniotik

Selanjutnya adalah Rimba Amniotik. Prosa ini merupakan perbincangan seorang ibu dengan janin yang tengah dikandungnya, ditulis Dee untuk Atisha yang tengah dikandungnya saat itu.


“Terima kasih untuk perjalanan ini. Untuk pilihanmu datang melalui aku. Untuk proses yang tak selalu mudah, tapi selalu indah.”


3. Perempuan dan Rahasia


“…Seorang laki-laki tak kuasa bertanya

Mengapa perempuan ada

Siapa itu yang berdiam dalam keanggunan

Tanpa perlu mengucap apa-apa

Ialah puisi yang merajut cinta dengan bumi dan rahasia

Hingga semua jiwa bergetar saat pulang ke pelukannya”


It’s my favorite part. Uhh, merinding ga sih bacanya? Bahasa Dee memang tinggi menurutku, tapi indah, jadi ngerasa damai deh bacanya :D


4. Ingatan tentang Kalian


“… Cinta dan sahabat

Sahabat dan cinta

Itulah jiwa yang terpecah dengan sederhana

Sisanya fana”


5. Have You Ever?

Salah satu favoritku dalam buku ini. ‘Have you ever…?’ Pertanyaan ini terlontar tanpa pernah selesai. Mengapa? Karena sebenarnya si penanya tak pernah tahu apa yang mau ia tanyakan. Cerpen ini menceritakan Howie yang mengejar sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu apa sampai ke Australia. Dan saat ia melihat Bintang Selatan – The Southern Cross – ia menemukan yang ia cari.


“I stop asking question. That’s what matter!”

Howie – Have You Ever?


“Hidup telah menunjukkan dengan caranya sendiri bahwa aku senantiasa dipandu. Tak perlu tahu ke mana semua berakhir.”


6. Semangkuk Acar untuk Cinta dan Tuhan

Apa itu Cinta? Apa itu Tuhan? Dua pertanyaan yang melahirkan berjuta argument dari mulut manusia, namun tidak pernah ada jawaban yang memuaskan mengenai keduanya. Dee menganalogikannya dengan semangkuk acar dan bagaimana mengupas bawang untuk acar tersebut dengan tangannya sendiri.


“Itulah cinta. Itulah Tuhan. Pengalaman, bukan penjelasan. Perjalanan, bukan tujuan. Pertanyaan, yang sungguh tidak berjodoh dengan segala jawaban.”


7. Wajah Telaga


“… saat engkau mencair menjadi aku dan aku hidup oleh sentuhanmu

Bersua tanpa samara apa-apa

Saat semua Cuma cinta

Cinta semua saat

Dan bukan lagi saat demi saat.”


Romantiiiis :D


8. Tanyaku pada Bambu


“… degup itulah satu alasan ia ada

Sebagaimana semua

Yang bersebab dan berakibat

Termasuk bambu dan aku.”


Puisi ini menceritakan kelahiran dan kehidupan.bagus banget deeh .


9. 33


“Bagiku 33 adalah engkau dan aku. Menjalani napas demi napas tanpa perlu tahu aapa yang dijanjikan lilin, nasi, tahu, tawa, tangis, dan segala karya yang tercipta buat kita berdua.”


Ini adalah puisi yang Dee buat untuk suaminya, Reza Gunawan, yang pada saat itu berusia 33 tahun 33 hari.


10. Guruji


“Bahkan sedetik yang lalu pun kita bukan manusia yang sama.”

Ari (Guruji) – Guruji


Cerpen ini menceritakan dua tokoh bernama Ari. Ari (pria) berminat pada bidang penyembuhan dan pada akhirnya menjadi seseorang yang disebut Guruji. Sedangkan Ari lainnya (wanita) mencari jejak Ari dalam diri Guruji, namun ia tak menemukan sosok Ari yang dulu.


11. Percakapan di Sebuah Jembatan


“Dan aku bertanya: inikah kedaulatan yang sesungguhnya?

Saat manusia bersatu dengan apa yang mengelilinginya”


Sebuah puisi mengenai pahlawan, yang ditulis Dee pada hari pahlawan.


12. Menunggu Layang-Layang

Nah, ini merupakan cerpen yang paling aku suka dalam buku ini. Kubaca dua kali, dan dua kali pula aku menitikkan air mata. Haha, banyak quote yang bisa kutuliskan ulang di sini.


“Kalau kita tahu pasti apa yang kita mau, ngapain buang energy buat coba-coba? Masalahnya, kamu nggak pernah tahu yang kamu mau.”

Christian


“Kadang-kadang kamu harus terjun dan jadi basah untuk tahu air, Che. Bukan Cuma nonton di pinggir dan berharap kecipratan.”

Starla


“Dunia ini adil.”

Christian


“Layang-layang itu bebas di langit. Tapi tetap ada benang yang mengikatnya di bumi. Jangan lepason aku, Che.”

Starla


“Aku… memang segitu takutnya… segitu nggak percayanya… tapi, aku sekarat tanpa kamu.”

Christian


“Gimana mungkin aku curhat sama kamu—tentang kamu?”

Starla


“Anggap aja kamu ikan lele. Bisa berkembang biak di septic tank. Dia hidup bahagia di tempat sampahnya.”

Christian


Cerpen ini menurutku manis banget. Bagaimana Starla dan Christian sebenarnya sama-sama merasa kesepian. Namun mereka menanganinya dengan cara yang berbeda. Starla –seperti kolektor- selalu mencari. Sedangkan Christian bertahan dengan kesendiriannya dalam sepi.

Christian menjadi tempat sampah setia bagi Starla selama empat tahun. Namun pada akhirnya mereka sadari mereka saling membutuhkan, saling melengkapi.

Cerita ini disajikan oleh Dee dengan sangat indah ^^


13. Barangkali Cinta

Puisi ini pernah saya baca sebelumnya di blog pribadi Dee. Pas sekali sebagai penutup buku ini.


“… Pastilah cinta

Yang punya cukup daya, hasrat, kelihaian, kecerdasan, dan kebijaksanaan

Untuk menghadirkan engkau, aku, ruang, waktu

Dan menjembatani semuanya

Demi memahami dirinya sendiri.”


Sekian yang dapat aku tulis tentang Madre, a must read book.

Ga sabar nunggu Supernova 4 nih! :D



“Layang-layang itu bebas di langit. Tapi tetap ada benang yang mengikatnya di bumi."

8 komentar:

  1. "Siapa sih yang ga kenal sama Dewi Lestari? Hayo siapa?"

    "Aku ga kenal...T_T...."
    :pokerface

    BalasHapus
  2. waduh, ada yg ga tau toh ternyata..
    setelah baca ini jadi kenal dong yaa :D

    BalasHapus
  3. nggak juga...
    T_T

    BalasHapus
  4. wah wah, cari tahu dong kakak :D
    buku pertamanya, supernova, bagus banget loh, sains fiksi gitu ^^

    BalasHapus
  5. yang ada segitiga tak mungkinnya itu? tapi ragu kenapa dia bisa nulis science-fiction,emang dia sarjana science??

    BalasHapus
  6. bukaaan..

    lulusan HI Unpar sih.. :/
    tapi, untuk dapat menulis sains fiksi tidak harus sarjana sains kan?
    dia kan bisa belajar..

    BalasHapus
  7. ada link buat download pdf-nya madre gak???

    BalasHapus
  8. Wah, lebih baik beli bukunya aja deh ;)

    BalasHapus